Creative Block

Nggak selamanya ide bisa ngalir terus tiap hari & tiap saat..Jadi yang biasanya saya lakuin waktu lagi ngadepin creative block / buat brainstorming

  • Nonton film
  • Surfing di tempat yang tepat; macemnya vimeo, motionograph, tumblr, behance, deviantart, kreavi, pinterest, art of title dkk
  • Dateng ke pameran/ art space
  • Baca majalah/ buku yang bersangkutan
  • Ngobrol sama narsum
  • Jalan sambil merhatiin dekorasi, packaging , display toko yang punya tema tertentu

TOP 4 ALL TIME INDIE – FAV MOVIES

Berikut nih list all-time-fav-muvee versi saya, hampir didominasi independent muvee & punya kesamaan; visually-pleasing. Saya nih tipe orang yang demen film – film yang manjain mata, entah itu sinematografinya/ dari environment-nya yang masih dinomor satuin kalo buat saya pribadi sih ( maklum tipikal cewek demen film – film yang manis-menye-menye-sok iye ) + biar betah juga buat ditonton lama – lama. Oiya plus satu lagi..saya juga tipikal orang yang musti liat rating di IMDB dulu waktu mau nonton ditambah kebanyakan saya lebih naksir film – film festival awardee/ nominee dibanding  film – film action yang merajai box office punya :p

1.) Moonrise Kingdom

Yang buat tertarik dari Moonrise Kingdom pas liat posternya, nuansa warna kuning yang ngedominasi, ada american scout dan cewek di tengah hutan, ditambah credit title & gak lupa juga judulnya make font script dan warna – warna neon yang makin ngasih efek “vintagey”-nya makin kental.

Image

Image

Image

Trus pas cek di IMDB ternyata ratingnya 7.8 dari skala 10 dan rotten 94% di rotten tomatoes! Nilai yang tinggi buat rating film non box office..Makin penasaran & akhirnya saya nge-gugel ni film. Ternyata kumpulan shot-nya oke, setting-nya tahun dengan color tone & environment warna  kuning yang mendominasi (mulai dari kuning muda sampe kuning tuaberhubung scout lebih dominan ke kuning & cokelat warnanya). Oiya, di sini juga ada si Bruce Willis, aktor lawas yang udin senior juga..Cuma starring-nya jadi scout captain gitu..( Agak syok terapi juga sih tipikal doi main di film – film yang menye-menye begini).

Image Image

Image

Yang buat saya kecewa banget di film ini ada scene yang make VFX, yaitu pas waktu kebakaran dan agak nonsense gitu pas ditonton jadi-nya macem  vfx yang cheesy gitu. Tapi yang paling saya suka sih environment-nya & properti, macamnya foto – foto a la tumblr punya..

Image

Image Image

Image

ImageImage

ImageImageImage

Film ini ceritain tentang Sam Shakusky & Suzy Bishop yang punya kepribadian yang sama, yaitu sama – sama introvert. Sam ini termasuk anggota Khaki Scout yang satu pulau dengan tempat tinggal si Suzy. Mereka kabur berdua & terlibat typical-puppy love-syndrome-affair. Saya gakmau cerita banyak berhubung ntar jadi spoiler sendiri, jauh lebih enak nonton sendiri :p

Color Pallete:

Kuning, Khaki, Ijo ( saturasi yang turun / dull version ), merah, coklat tua. Mulai sekarang kayanya saya bakal lebih perhatiin karyanya Wes Anderson punya.

Image

Image

Kontras; Sebelah kiri cenderung B&W, sebelah kanan didominasi kuning dan masih satu monokrom & analog.

ImageImage

IMDB

Rating:          7,8

Rotten Tomatoes

94% Rotten

2.) Submarine

Low budget indie movie-nya British Council ini bakal nyuguhin kita nuansa Great-Britain yang kental, mulai dari British-Accent-nya, soundtrack-nya yang diisi sama suara Alex Turner yang khas & dimana notabene-nya frontman Arctic Monkeys & petikan gitarnya yang bisa buat adem ayem. Film ini punya kesamaan sama karya – karyanya Wes Anderson punya, yang sama – sama quirky.

“Ain’t he hipster inaff, rite ?”

Image

Oiya, ternyata film ini juga diproduserin sama Ben Stiller, panteslah genrenya age comedy gini, tapi dengan nuansa yang gloomy , minim dialog, alur agak lama dan yang dominan adalah narasi. Biar low budget juga,tapi film ini udah menang di beberapa film festival & termasuk juga jadi nominee-nya. Udah gitu ini film dibagi jadi beberapa part, macam film – film yang lawas. Ceritanya tentang typical-puppy love-syndrome-affair dari si Oliver Tate yang introvert & masih hijau sama  Jordana Bevan, di samping tentang bullying juga.

ImageImage

Image

Image

Ben Stiller ini punya taste yang oke, film – film yang digarap menurut saya sih highly-recommended, macemnya Submarine (2010) dan yang paling terbaru ada The Secret Life Of Walter Mitty (2013) yang dimana filmnya sangat memanjakan mata dengan breathtaking scenery & sinematografinya. Ke-dua film ini juga nyuguhin soundtrack yang oke jadi paket komplit yang rancak bana.

Image

Image

ImageImage

Image

Image

IMDB

Rating:          7,3

Rotten Tomatoes

87% Rotten

3.) Amélie

ImageImage

ImageImageImage

ImageImage

Audrey Tatou emang ikonik dengan Perancis, begitu juga film – film dari sana nggak segan – segan buat nyuguhin Audrey Tatou di setiap filmnya. Color tone warna ijo yang lebih mendominasi di film ini. Kalau di Submarine identik dengan Britain, di Amélie, identik dengan France, berhubung soundtracknya juga tambah lengkap sama alunan akordion & aksen perancis yang ehem. Berasa duduk ngopi di cafe paris yang ada di pinggir jalanlah (halah). Envi-nya di France, dimana ini tempat udah pasti camera-genic banget, jadi ambil shot dimana aja bakal visually pleasing sih menurut saya, ditambah cast yang good lookin macemnya Audrey Tatou. Cerita mungkin standard, tapi film ini manjain mata dimana envi-nya ada di France bisa buat betah nontonnya.

Image

ImageImage

IMDB

Rating:          8,5

Rotten Tomatoes

90%  Rotten

4.) Across The Universe

Berikut beberapa alasan must’ve watched Across The Universe:

  1. Jim Sturgess
  2. Jim Sturgess
  3. Jim Sturgess

Image

ImageImage

Saya becanda ;;)  tapi emang doi ikonik juga dengan British Youth & efortless-hawt-British-accent. Pecinta Beatles wajib hukumnya nonton ini, berhubung ini film musikal yang nge-recover lagu – lagu Beatles macemnya Hold Me Tight, All My Loving, I Wanna Hold Your Hand, I’ve Just Seen A Face, de el el. Tapi bukan macem Glee sih, jadi lebih rekomen. Color tone-nya juga setipe sama Moonrise Kingdom punya, dominan ke warna kuning & hijau. Dilatarbelakangi dengan revolusi rock n roll era juga kemunculan Dr.Robert a.k.a. Bono era psychdelic & kaum hippies.

Image

Image

Image

Film ini simbolik & konotatif banget, jadi nontonnya lumayan mikir…berhubung karakter Jojo itu cerminan dari  Jimi Hendrix, sedangkan Sadie melambangkan dari Janis Joplin.

Image

Image

Image

Yang buat menarik, nama – nama karakter di film ini diambil dari lagu – lagu The Beatles:

 Lucy – “Lucy in the Sky with Diamonds”

Jude – “Hey Jude”

Max – “Maxwell’s Silver Hammer”

Sadie – “Sexy Sadie”

Jojo – “Get Back”

Prudence – “Dear Prudence”

Dr. Robert – “Doctor Robert”

Mr. Kite – “Being for the Benefit of Mr. Kite”

Dan (Lucy’s first boyfriend) – “Rocky Raccoon”

Molly (Jude’s English girlfriend) – “Ob-La-Di, Ob-La-Da”

Martha (Jude’s mother) – “Martha My Dear”

Julia (Lucy’s sister) – “Julia”

Rita (The Contortionist) – “Lovely Rita”

Teddy (Max’s uncle) – “Teddy Boy”

Bill (Sadie’s Producer) – “The Continuing Story of Bungalow Bill”

Image

Image

Film ini sebenarnya secara tidak langsung merepresentasikan The Beatles, yang paling tersirat itu waktu ada scene Jim sturgess yang lagi ngeband di rooftop, sama dengan konsernya The Beatles pada tahun 1969 untuk live performance mereka yang terakhir.

IMDB

Rating:          7,4

Rotten Tomatoes

53%  Rotten

Image

“Abstraksi Di Atas Abstraksi…”

Penggalan kalimat di atas yang saya paling ingat & paling sering terlontarkan oleh dosen estetika semasa mata kuliah estetika di semester 6 lampau. Mata kuliah yang cenderung menjurus ke filsafat ini emang rada absurd berhubung musti make “feel” banget. Soalnya belajar estetika cenderung ngerenyutin dahi a.k.a absurd dan cuma orang – orang yang taste seninya  tinggi yang bisa nerima.

Saya sih baru bisa paham kenapa kita juga butuh mata kuliah yang satu ini akhir – akhir ini.

Padahal banyak juga yang mencibir itu hanya mata kuliah teori semata. Memang si kampus saya lebih berat ke teknis , software dan dominan genrenya berkiblat ke Jepang ( lagi – lagi manga ) . Bukannya saya nggak demen Jepang, justru saya pertama kali belajar dari manga – manga-an. Tapi bosen juga sih dicekokinnya yang manga – manga-an gitulah. Saya butuh asupan gizi & nutrisi otak yang cukup juga , makanya di pameran – pameran seni kita bisa cuci mata & buat jadi referensi juga. Waktu dateng ke pameran macem gini baru paham butuh mata kuliah macemnya estetika juga. Belajar mata kuliah ini memicu kita buat karya yang nggak shallow, tapi ada konsep & meaningnya di samping buat (ide) juga.

Ya, saya juga baru paham ilmu ini kepake pas nonton film – film festival  yang ‘berat’ macamnya Tree Of Life & film – film festival lainnya. Filmnya minus sama vfx dan CGI  & menang di beberapa film festival yang notabene  ratingnya  tinggi di IMDB. Sampe sekarang sih masih jadi PR buat saya meaning dari filmnya.

Making the puppet

Originally posted on animationbegins:

It took more time than usual to create the puppet, I spend almost a week on fabricating it.  Of course, first I build the armature. For the skeleton I used aluminium wire and pieces of wood (chest and waist) which I drilled. Later on I covered the chest and the waist with the DIY material to make the skeleton steady to be fully bendable without breaking into peces. After waiting for that material to dry for a few hours I covered the skeleton with foam.

DSC03103DSC03104DSC03105DSC03106DSC03107???????????????????????????????DSC03109DSC03110???????????????????????????????DSC03114DSC03115DSC03116DSC03117??????????????????????????????? 27082013449 27082013444270820134462708201344727082013448

After covering it with foam and waited a little while for the glue to dry I  started “sculpting” the foam by cutting off the unnecessary pieces. I was worried at first that I wouldn’t get the shape right because her body is in a weird shape, but It came out fine, and I was able to glue a few foam pieces that were needed…

View original 287 more words